ETIKA KENEGARAWANAN HAKIM MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM KEAKTIFAN BERSIDANG SEBAGAI BAGIAN DARI PEMENUHAN HAK ATAS PERADILAN YANG ADIL
DOI:
https://doi.org/10.37631/jrkhm.v4i2.118Keywords:
Etika, Hakim Mahkamah Konstitusi, peradilanAbstract
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia memiliki peran strategis dalam sistem ketatanegaraan sebagai penjaga konstitusi dan pelindung hak konstitusional warga negara. Kedudukan tersebut menempatkan hakim Mahkamah Konstitusi tidak hanya sebagai pelaksana kewenangan yudisial, tetapi juga sebagai negarawan konstitusional yang memikul tanggung jawab etik dalam menjamin terpenuhinya hak atas peradilan yang adil (fair trial). Artikel ini bertujuan menganalisis etika kenegarawanan hakim Mahkamah Konstitusi dalam keaktifan bersidang sebagai bagian dari pemenuhan hak atas peradilan yang adil. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual, teoretis, dan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan bersidang hakim tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kewajiban prosedural, melainkan sebagai dimensi substantif pemenuhan hak konstitusional warga negara. Ketidakaktifan atau inkonsistensi kehadiran hakim berpotensi melemahkan due process of law dan legitimasi moral peradilan konstitusional.
Kata kunci: Etika; Hakim Mahkamah Konstitusi; peradilan.
References
Dworkin, R. (1977). Taking rights seriously. Harvard University Press. https://books.google.com/books?id=1p8YDQAAQBAJ
Muhammad, A. (2004). Hukum dan penelitian hukum. Citra Aditya Bakti.
Thompson, D. F. (1995). Ethics in congress: From individual to institutional corruption. Brookings Institution Press.
Asshiddiqie, J. (2015). The role of constitutional courts in the promotion of democracy. Constitutional Review, 1(1), 1–18. https://constitutionalreview.mkri.id/index.php/constitutionalreview/article/view/2
Faiz, P. M. (2018). Etika hakim konstitusi dan tantangan penegakannya. Jurnal Konstitusi, 15(4), 731–758. https://jurnalkonstitusi.mkri.id/index.php/jk/article/view/1647
Ginsburg, T. (2003). Constitutional courts in new democracies. University of Chicago Law Review, 64(1), 1– 41. https://chicagounbound.uchicago.edu/uclrev/vol64/iss1/1
Isra, S. (2014). Peran Mahkamah Konstitusi dalam penguatan demokrasi konstitusional. Jurnal Konstitusi, 11(3), 505–528. https://jurnalkonstitusi.mkri.id/index.php/jk/article/view/37
Dworkin, R. (1982). Law as integrity. Harvard Law Review, 95(7), 1645–1687. https://www.jstor.org/stable/1340323
Tyler, T. R. (2008). Procedural justice and the courts. Court Review, 44(1), 26–31.
Waldron, J. (2009). Judges as moral reasoners. International Journal of Constitutional Law, 7(1), 2–23. https://academic.oup.com/icon/article/7/1/2/688708
Valentini, L. (2010). Deliberation and democratic legitimacy. Journal of Political Philosophy, 18(1), 67–91. https://doi.org/10.1111/j.1467-9760.2009.00351.x
Philp, M. (2015). Political conduct. In International encyclopedia of the social & behavioral sciences (pp. 838– 842). Elsevier. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780080970868170294
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Bagus Anwar Hidayatulloh, Arif Wardani, Dian Aries Mujiburohman

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.













